
Studi Kasus
Seorang pelajar laki-laki, An. A (16 tahun), dilarikan ke UGD dengan luka bakar kimiawi berat pada wajah, leher, dan kedua mata setelah disiram air keras oleh sekelompok pelajar lain yang tidak dikenalnya, saat ia sedang menunggu angkutan umum sepulang sekolah.
Penanganan Fase Akut dan Temuan Klinis
Pemeriksaan Fisik di UGD (1 Jam Pasca-Kejadian)
- Tanda Vital: Stabil namun An. A tampak sangat kesakitan dan gelisah.
- Mata (Oftalmologi): Kedua mata menunjukkan injeksi konjungtiva berat, kornea tampak buram dengan epitel yang terlepas di beberapa area. Respon pupil terhadap cahaya melambat.
- Kulit (Dermatologi): Luka bakar derajat II-III pada sekitar 30% TBSA (Total Body Surface Area), meliputi wajah bagian tengah, dahi, kelopak mata, dan leher anterior. Kulit tampak nekrotik di beberapa area dengan vesikel dan bula yang berisi cairan.
Penanganan Awal dan Komplikasi Dini
- An. A segera dibilas dengan air mengalir selama 30 menit di tempat kejadian oleh warga.
- Di UGD, ia langsung diberikan analgesik opioid, cairan intravena, dan debridemen awal pada kulit.
- Namun, setelah 6 jam, visus kedua mata menurun drastis menjadi hanya persepsi cahaya, dan tekanan intraokular (TIO) meningkat tajam.
Progresi Klinis Jangka Menengah (2 Minggu Pasca-Kejadian)
Oftalmologi (Post-Operasi)
- Visus: Mata kanan (OD) hanya persepsi cahaya, mata kiri (OS) tidak ada persepsi cahaya.
- Komplikasi: Kornea kedua mata mengalami opasitas yang persisten. Ditemukan adanya simblefaron (adhesi konjungtiva palpebra dan bulbi) di beberapa area, terutama pada mata kiri.
- Prognosis: Risiko tinggi kegagalan transplantasi kornea di masa depan akibat vaskularisasi yang buruk dan inflamasi kronis.
DVE (Dermatologi, Post-Operasi)
- Luka Bakar: Luka bakar di wajah dan leher mulai menunjukkan granulasi, namun terjadi kontraktur skar hipertrofik yang signifikan, terutama di sekitar mulut dan leher, menyebabkan kesulitan dalam membuka mulut dan menoleh.
- Infeksi: Sempat terjadi infeksi luka dengan Pseudomonas aeruginosa yang membutuhkan antibiotik spektrum luas.
Aspek Psikologis dan Psikiatri (1 Bulan Pasca-Kejadian)
Status Mental An. A
- Gejala Trauma: An. A menunjukkan gejala Gangguan Stres Pasca-Trauma (PTSD) yang berat: mimpi buruk berulang tentang kejadian, flashback spontan, penghindaran sosial ekstrem, dan hipervigilansi (mudah terkejut).
- Perubahan Emosional: Mengalami depresi mayor dengan ide bunuh diri pasif (merasa tidak ada harapan untuk hidup).
- Persepsi Diri: Mengalami dismorfia tubuh yang parah akibat perubahan wajahnya, merasa jijik pada penampilannya sendiri.
Reaksi Keluarga
- Orang tua An. A juga menunjukkan tanda-tanda distress psikologis berat dan mulai menyalahkan satu sama lain atas kejadian tersebut.
- Kesulitan finansial akibat biaya pengobatan yang sangat besar menjadi sumber stres tambahan.
Pertanyaan:
1. Patofisiologi dan Tatalaksana Oftalmologi Akut
Jelaskan patofisiologi kerusakan okular akibat penyiraman air keras (kimiawi alkali) pada mata An. A, terutama mengapa injeksi konjungtiva berat dan opasitas kornea terjadi. Apa tindakan tatalaksana oftalmologi emergensi yang seharusnya menjadi prioritas utama di UGD untuk mencegah kebutaan permanen, dan mengapa monitoring TIO sangat penting?
2. Manajemen Luka Bakar Kimiawi dan Rekonstruksi DVE
Jelaskan perbedaan penanganan luka bakar kimiawi alkali dengan luka bakar termal, terutama pada fase akut (misalnya, durasi irigasi). Mengapa kontraktur skar hipertrofik di wajah dan leher merupakan komplikasi yang tak terhindarkan dan bagaimana pendekatan bedah rekonstruktif DVE serta rehabilitasi (fisioterapi) dapat meminimalkan dampak fungsional dan estetiknya?
3. Diagnosa dan Intervensi Psikiatri/Psikologi Jangka Panjang
Identifikasi dua diagnosa psikiatri utama yang paling mungkin pada An. A (selain luka fisik). Rancanglah rencana intervensi psikososial dan farmakologis yang komprehensif untuk An. A, termasuk peran Terapi Perilaku Kognitif (CBT) dan Desensitisasi dan Reprosesan Gerakan Mata (EMDR) dalam mengatasi trauma kompleks dan dismorfia tubuh.
4. Tantangan Komunikasi dan Konseling Multidisiplin
Dalam konteks ini, tim medis harus mengkomunikasikan prognosis yang buruk mengenai penglihatan dan penampilan An. A kepada keluarga dan pasien. Rancanglah strategi komunikasi yang etis dan empatik untuk menyampaikan berita buruk ini, sekaligus membangun harapan yang realistis, tanpa memicu keputusasaan lebih lanjut. Libatkan peran konselor dalam membantu keluarga menghadapi beban emosional dan finansial.
5. Aspek Medikolegal dan Implikasi Sosial
An. A adalah korban kejahatan kekerasan. Dari sudut pandang medikolegal, jelaskan pentingnya dokumentasi luka yang rinci (fotografi, diagram) untuk proses hukum. Bagaimana kejadian ini memengaruhi fungsi sosial An. A (pendidikan, hubungan teman sebaya), dan apa peran sistem pendukung sosial di sekolah atau komunitas dalam membantu An. A beradaptasi kembali?
INFO PELATIHAN PPDS / PPDGS, AcEPT UGM, PAPS UGM, dan akademik lainnya?
Silahkan menghubungi No Admin GLC 0818 25 1111
INFORMASI PPDS UGM CEK DISINI
INFORMASI PPDGS UGM CEK DISINI
INFORMASI PPDS CENTER SE-INDONESIA CEK DISINI
INFO BIMBINGAN ACEPT UGM CEK DISINI
TESTIMONI PESERTA CEK DISINI
JADWAL TES ACEPT UGM CEK DISINI
CARA MENDAFTAR TES ACEPT UGM CEK DISINI
CEK KUOTA TES ACEPT UGM LIHAT DISINI
CONTOH SOAL ACEPT UGM PELAJARI DISINI
CEK HASIL TES ACEPT UGM DISINI
INFO BIMBINGAN PAPS UGM CEK DISINI
TESTIMONI PESERTA CEK DISINI
JADWAL TES PAPS UGM CEK DISINI
CARA MENDAFTAR TES PAPS UGM CEK DISINI
CEK KUOTA TES PAPS UGM LIHAT DISINI
CONTOH SOAL PAPS UGM PELAJARI DISINI
CEK HASIL TES PAPS UGM DISINI
INFO BIMBINGAN IUP UGM CEK DISINI
JADWAL TES IUP UGM CEK DISINI
0 Komentar